BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Sejak
zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal dengan pelayar-pelayar
yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dengna berbagai
daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka
sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titk perhatian, terutama hasil
bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan
penting bagi Cina dan India. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun
ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara.
Beberapa tahun kemudian , tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah tekah
mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama
penduduk Insonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim
terus berdatangan , abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini
sambil berdakwah,dalam makalah ini akan membahas tentang Masuknya Islam ke
Indonesia.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja Teori Masuknya Islam ke
Indonesia?
2. Apa saja metode-metode masuknya Islam ke
Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan Islam di
Nusantara?
4. Apa saja kerajaan Islam yang masuk ke
Indonesia?
5. Siapa Wali Songo itu?
C.
TUJUAN
1. Mengetahui teori-teori masuknya Islam ke
Insdonesia.
2. Mengetahui metode-metode masuknya Islam
ke Indonesia.
3. Mengetahui perkembangan Islam di
Nusantara.
4. Mengetahui kerajaan Islam di Indonesia.
5. Mengetahui Wali Songo.
D.
MANFAAT
Dengan
dibuatnya makalah ini diharapkakn memiliki manfaat agar mahasiswa mengetahi
tentang bagaimana sejarah masuknya Islam ke Indoesia, dan diharapkan setelah
membaca makalah ini mahasiswa bisa meningkatkan iman dan taqwa,dan bisa lebih
mengahargai apa yang sudah diperjuangkan orang terdahulu dalam menegakkan agama
Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Masuknya
Islam ke Indonesia
Islam di Indonesia baik secara historis
maupun sosiologis sangat kompleks, terdapat banyak masalah, misalnya tentang
sejarah dan perkembangan Islam. Oleh
karena itu, para sarjana sering berbeda pendapat.Secara umum beberapa karya awal sepakat menyatakan, bahwa Islam
datang ke wilayah Nusantara melalui jalur-jalur pelayaran di sepanjang
kepulauan Indonesia secara damai dan kultural, bukan dengan kekuatan politik
sebagaimana yang terjadi di kawasan lain. Sampai saat ini, pembahasan tentang
kapan, siapa, dan dari mana Islam datang ke Indonesia itu masih saja
diperdabatkan. Setidaknya tiga versi yang sering menjadi rujukan utama penulisan
tentang perkembangan Islam di Indonesia.
1)
Teori Persia
Islam dibawa ke
Indonesia oleh para pedagang dari Persia sekitar abad ke-13 Masehi. Wilayah
Samudera Pasai diyakini sebagai tempat pijakan pertama. Menurut teori ini,
adanya persamaan tradisi beberapa kelompok masyarakat Islam dengan tradisi
masyarakat Persia. Misalnya, peringatan Suro yang dilakukan setiap tanggal 10
Muharram, dan tradisi Tabut yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumatera
Barat, merupakan tradisi yang persis dilakukan masyarakat Iran untuk
memperingati meninggalnya Sayyidina Husain.[1]
2)
Teori India
[1] Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT
RAJAGRAFINDO PERSAD.Hal. 394
hubungan yang sudah terjalin berabad-abad antara penduduk Indonesia
dengan para pedagang dari India. Pandangan Hurgronje ini juga bertumpu pada
perilaku masyarakat Islam Indonesia yang sama sekali tidak mencerminkan
nilai-nilai Arab.[2]
3)
Teori Arab
Islam
datang pada awal abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para
pedagang dari Persia atau India, melainkan langsung dari Arab. Sumber teori ini
banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku
tentang sejarah China yang berjudul Chiu Thang Shu. Menurut buku ini,
orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, yang pernah melakukan
kunjugan diplomatikke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Empat tahun
kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni’, sebutan untuk
Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku ini menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo
Ni’ itu merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti
bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.
[2] Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT
RAJAGRAFINDO PERSADA.Hal. 395
tujuan, kapal-kapal ini harus melalui jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa
catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim ke China itu sempat
mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Mereka umumnya
ingin mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat dikenal pada masa itu.
Kunjugan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak
tahun 100 Hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang
cukup baik antara raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul
Aziz.
Selain di Zabaj
atau Sriwijaya, daerah lain yang sering disebut-sebut tempat persinggahan para
delegasi muslim adalah Aceh, Minangkabau dan bahkan sampai ke pusat
rempah-rempah, Maluku. Di sana mereka melakukan dakwah dan mengajarkan
nilai-nilai Islam kepada masyarakat sekitarnya. Sebab, banyak dari
delegasi-delegasi tersebut adalah seorang da’i yang khusu dikirim khalifah
untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Timur Jauh, termasuk Indonesia.
[3]
4)
Teori Cina
Prof.Dr.Slamet
Muljana, 1968 dalam Runtuhja Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnja
Negara-negara Islam di Nusantara, tidak hanya berpaendapat Soeltan Demak
adalah orang peranakan Cina. Namun juga, menyimpulkan bahwa para Wali Songo
adalah orang peranakan Cina.Pendapat ini bertolak dari Kronik Klenteng Sam Po
Kong.
Misalnya Soeltan
Demak Panembahan Fatah dalam Kroni Kenteng Sam Po Kong bernama Panembahan
Jin Bun nama Cina-nya.Arya Damar sebagai pengasuh panembahan Jimbun pada waktu
di Palembang, bernama Cina, Swan-
Liong. Sultan Terenggana disebutkan dengan nama Cina,Tung Ka
Lo.Sedangkan Wali Songo antara lain, Sunan Ampel dengan nama Cina, Bong Swi
Hoo.Sunan Gunung Djati dengan nama Cina, Toh A Bo.[4]
Faktor Penyebab
Indonesia Dikenal Bangsa-Bangsa Lain
Ada dua faktor yang
menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khusunya oleh
bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur Jauh sejak dahulu kala, yaitu :
1)
Faktor letak geografisnya yang strategis. Indonesia berada di
persimpangan jalan raya Internasional dari jurusan Timur Tengah menuju
Tiongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua Amerika dan Australia.
2)
Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan
hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain, misalnya : rempah-rempah.[5]
B.
Metode-metode masuknya Islam ke Indonesia :
a. Perdagangan yang mempergunakan sarana
pelayaran.
b. Dakwah, yang dilakukan oleh mubalig yang
berdatangan bersama pedagang.Para mubalig itu juga bisa jadi juga para sufi
pengembara.
c. Perkawinan, yaitu perkawinan antara
pedagang Muslim, mubalig dengan anak bangsawan Indonesia.
d. Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang
mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang
menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.Pusat-pusat pendidikan dan
penyebaran di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang
didatangi pelajar-pelajar dan mengitim mubalig local, di antaranya mengirim
Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
[5] Muchtarom, H Zuhairini, dkk. 2004. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM.
Jakarta : Bumi Aksara. Hal.
e. Tasawuf dan tarekat, sudah diterangkan
bahwa bersamaandengan pedagang, datang pula para ulama, dai, dan sufi
pengembara. Para ulama dan sufi itu kemudian ada yang diangkat menjadi
penasihat dana tau pejabat agama di kerajaan. Di Aceh ada Syaikh Hamzah Fansuri,
Syamsudin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri. Abd. Rauf Singkel. Demikian juga
kerajaan-kerajaan di Jawa pempunyai penasihat yang bdergelar wali, yang
terkenal adalah Wali Songo.[6]
f.
Di maluku dan sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk islam
setelah rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat
membantu tersebarnya islam didaerah ini. Di samping itu, baik di sumatera dan
jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik,
kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan-kerajaan non-islam. Kemenangan
kerajaan islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu
masuk islam.[7]
Para sufi menyebarkan Islam dengan dua
cara:
a) Dengan membentuk kader mubalig, agar mampu
mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.
b) Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan
dibaca di berbagai tempat
Melalui saluran-saluran sebagai Dari
tiga teori di atas, diselenggarakanlah seminar masuknya agama Islam ke
Indonesia di Medan pada tahun 1963. Kesimpulan dari seminar tersebut adalah
sebagai berikut :
1)
Menurut sumber bukti yang terbaru, Islam pertama kali datang ke
Indonesia pada abad ke-7 M/1 H dibawa oleh pedagang dan mubalig dari negeri
Arab.
[6] Sunanto, Prof.Dr.
Musyrifah.(2004..Hal.10-12)
[7] Nurahman, Adi (2013) http://adinurahman.blogspot.co.id
2)
Daerah yang pertama kali dimasuki ialah pantai barat pulau Sumatera
yaitu di daerah Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri.
Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di Pase.
3)
Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa
Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan, dan proses itu berjalan
secara damai.
4)
Keadtangan Islam di Indonesia ikut mencerdaskan rakyat dan membina
karakter bangsa. Karakter tersebut dapat dibuktikan pada perlawanan rakyat
melawan penjajahan bangsa asinng dan daya tahnnya mempertahankan karakter
tersebut selama dalam zaman penjajahan Barat dalam waktu 350 tahun.[8]
C.
Perkembangan Islam di Nusantara
Perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga
fase. singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara.
Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina. Adanya komunitas-komunitas
Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, di samping
berita-berita asing, juga makam-makam Islam, dan berdirinya kerajaan-kerajaan
Islam.
Islam datang di Indonesia dengan membawa peradaban
baru yang memiliki corak keislaman secara khusus. Beberapa bentuk peradaban
Islam mewarnai kehidupan dan pemikiran masyarakat Islam di Indonesia.
Akulturasi antara peradaban Islam dan peradaban masyarakat setempat menjadi
terpadu yang membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam Indonesia.
Di antara peradaban Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut:[9]
[8] Sunanto, Prof.Dr. Musyrifah.(2004..Hal.10-12)
[9] Nurahman, Adi (2013)
1) Sistem
birokrasi keagamaan
Karena
penyebaran Islam di Indonesia pertama kali dilakukan oleh para pedagang,
pertumbuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan penting di Sumatra,
Jawa dan pulau lainnya. Kerajaan-kerajaan yang pertama kali berdiri juga
didaerah pesisir. Demikian halnya dengan kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak,
Banten, Cirebon, Ternate dan Tidore.
Ibu kota
kerajaan selain merupakan pusat politik dan perdagangan, juga merupakan tempat
berkumpul para ulama dan mubaligh Islam. Ibnu Batutah menceritakan, Sultan
Kerajaan Samedra Pasai, Sultan Al-Malik Az-zahir, di kelilingi oleh ulama dan
mubaligh Islam, dan Raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai
masalah-masalah keagamaan. Raja-raja aceh mengangkat para ulama menjadi
penasihat dan pejabaat di bidang Keagamaan. Keberadaan Ulama sebagai
penasehat raja, terutama dalam bidang keagamaan juga terdapat
dikerajaan-kerajaan Islam lainnya. Adapun disamping sebagai penasehat raja ,
para ulama juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan yang memiliki tingkat dan
istilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, pada umumnya
disebut qadhi .meskipun dengan istilah yang berbeda, tetapi
penetapan hukum Islam di satu kerajaan lebih jelas dibandingkan dengan
kerajaan lain. Kedudukan jabatan ulama yang terkuat diantarannya
adalah di Aceh dan di Banten.[10]
Birokrasi
keagamaan juga berlangsung di beberapa keraajaan Islam seperti di Kesultanan
Demak di Jawa. Semasa menjadi raja, Sultan Fatah diangkat oleh para walisongo
sebagai raja Demak. demikian pula yang berlaku di kerajaan Mataram Islam,
sultan agung bahkan memberlakukan
kebijakan perpaduan tahun jawa Saka disesuaikan disesuaikan dengan tahun hijriyah. Hal ini menunjukan perpaduan
akulturasi budaya setempat
(jawa) dengan tradisi hukum Islam yang dituangkan
dengan system birokrasi keagamaan. Demikian pula yang berlaku di beberapa
kerajaan lain di Indonesia pada umumnya.
2) Peran
Ulama dan karya-karyanya
Penyebaran
dan pertumbuhan kebudayaan umat islam di Indonesia terletak di pundak para
ulama. Paling tidak ada dua cara yang dilakukan. Yang pertama, membentuk para
kader ulama yang akan bertugas sebagai mubaligh ke berbagai daerah yang lebih
luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam yang dikenal
dengan pesantren di jawa,dayah di Aceh, surau di
minangkabau. Yang kedua, melalui karya-karya yang tersebar dan dibaca di
berbagai tempat yang jauh. Karya-karya tersebut mencerminkan perkembangan
pemikiran dan ilmu-ilmu keagamaan di Indonesia pada masa itu. Pada abad ke 16
dan 17, banyak sekali muncul tulisan para cendekiawan Islam di Indonesia. Syed
Muhammad Nuqaib Al-Attas menyatakan, Abad-abad itu menyaksikan suatu kesuburan
dalam penuulisan sastra, filsafat, metafisika, dan teologi rasional yang tidak
terdapat tolak bandingannya dimana-mana di zaman apapun di Asia Tenggara. Akan
tetapi, perlu juga diketahui bahwa ketika tradisi pemikiran Islam mulai
terbentuk di kepulauan Indonesia ini, di pusat dunia islam, bidang pemikiran
itu telah mapan.[11]
3)
Corak bangunan arsitek
Berkembangnya
kebudayaan Iskam di Kepulauan Indonesia telah menambah khasanah budaya nasional
Indonesia, serta ikut memberikan dan menetukan corak kebudayaan bangsa
Indonesia.
Akan tetapi
karena kebudayaan yang bekembang di Indonesia sudah begitu kuat di lingkunagan
masyarakat maka berkembangnya kebudayaan Islam tidak menggantikan atau
memusnahkan kebudayaan yang sudah ada. Dengan demikian terjadi akulturasi
antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada.
[11]Samsul MunirAmin, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 410-411
Hasil peroses akulturasi
antara kebudayaan pra Islam dengan ketika Islam masuk tidak hanya bebentuk
fisik kebendaan seperti seni bangunan, seni ukir atau pahat , dan karya sastra
tetapi juga menyangkut pola hidup dan kebudayaan non fisik lainnya.
Beberapa contoh bentuk
akulturasi yaitu, masjid dan menara, makam.
4) Lembaga
pendidikan Islam
Lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah berkembang
dalam beberapa bentuk sejak zaman penjajahan Belanda. Salah satu bentuk
pendidikan islam tertua di Indonesia adalah pesantren yang tersebar di berbagai
pelosok. Lembaga pesantren di pimpin oleh seseorang ulama atau kiai. Untuk
tingkatan lanjutan, tidak ada kurikulum yang jelas pada lembaga ini. Kemajuan
seorang penuntut sangat perlu ditentukan oleh kerajinan, kesunguhan dan ketekunan
masing-masing. Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam mempunyai konstribusi
yang sangat besar dalam pembentukan budaya masyarakat Islam di Indonesia.[12]
D. KERAJAAN-KERAJAAN
ISLAM DI INDONESIA
Dari berbagai proses tersebut, Indonesia kemudian menjadi negara
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada perkembangannya ajaran Islam
disalurkan melalui berbagai kerajaan yang berkembang di Indonesia. Kerajaan
Islam yang pertama ada dan berkembang adalah kerajaan Samudera Pasai, dengan
raja pertamanya yang bernama Sultan Malik al-Saleh (1297 M/696 H). Kerajaan ini
terletak di pesisir timur laut Aceh.
[12] Anto.(2008).
Demak tahun 1546 M. Ada pula kerajaan Mataram yang dipimpin
pertamakali oleh Senopati.
Kemudian kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati.
Selain di Sumatera dan Jawa, kerajaan Islam juga tumbuh di tempat lain di
nusantara, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Di Kalimantan ada kerajaan
Banjar (Kalimantan Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di Sulawesi ada
kerajaan Gowa-Tallo, dengan sultan Alauddin (1591-1636) sebagai raja Islam yang
pertama. Selain Gowa-Tallo, di Sulawesi ada kerajaan Bone, Wajo, Soppeng dan
Luwu). Mereka juga menerima Islam pada awal abad 17 M. Sementara itu di Maluku
ada kerajaan Ternate yang memeluk Islam sekitar tahun 1460 dengan pimpinan
seorang raja yang bernama Vongi Tidore.
1)
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan
Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali tercatat sebagai
kerajaan Islam di Nusantara. Secara pasti, mengenai awal dan tahun berdirinya
kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi menurut pendapat
Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh
Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat
pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak
berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil
maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke
Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.[13]
[13]
Syahputra,Andre.(2014)
2)
Kerajaan Demak
Sebelum dikenal
dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal dengan nama Bintoro
atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.
Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja
Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam
di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran
Islam di pulau Jawa.
Hal ini
dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan
penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri
sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah.
Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat
pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh
daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah
merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat
kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan
yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra),
sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi
kerajaan Demak.[14]
3)
Kerajaan Banten
[14]
Syahputra, Andrea.(2014)
berikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan
dasar-dasar pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja
pertama, memerintah tahun 1552 – 1570.
Lokasi kerajaan
Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda
sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada
masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat melepaskan diri dari kerajaan Demak,
sehingga Banten dapat berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.
4)
Kerajaan Mataram
Pada awal
perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki
Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka
Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu
mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan
Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi
kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede
Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati
di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka
kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan
Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.
Akibat dari
perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan
diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada
Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi
dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan
takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan
sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram
tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di
sekitar kota Yogyakarta sekarang.
5. Kerajaan Gowa-Tallo
Di Sulawesi
Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya Gowa, Tallo, Bone,
Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk
persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan
Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu
kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar
sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan
sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, daerah
Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur
pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat
persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang
berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan
Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan
Nusantara.
6. Kerajaan Ternate-Tidore
Kerajaan
Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang
terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan
merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan
Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal
sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan
komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada
abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat
Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil
hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam
rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang yang datang
ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur.
Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agamaIslam masuk ke Maluku,
khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti,Hitu
di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui
perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh
(Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah Maulana Hussain
dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada
abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran
Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau
rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan
Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari
Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan
demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian
banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan
Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk
memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.[15]
7. Aceh
Darussalam
[15]
Syahputra, Andrea. (2014)
berdagang dengan Malaka memindahkan
kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511 M.
sebagai akibat penaklukan Malaka Utara melalaui selat Karimata dari Portugis
itu, jalan dagang yang sebelumaya dari laut Jawa ke Sunda dan menyusur pantai
Barat Sumatera, kemudian ke Aceh. Dengan demikian Aceh ramai dikunjungi
saudagar dari berbagai negeri.[16]
8. Hubungan Politik dan Keagamaan Antara Kerajaan Islam
Indonesia
Hubungan antara
satu kerajaan Islam dengan kerajaan Islam lainnya pertama-tama
memang terjalin karena persamaan agama. Hubungan itu pada mulanya, mengambil
bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah kerajaan-kerajaan Islam
berdiri. Demikianlah misalnya antara Giri dengan daerah-daerah Islam di
Indonesia bagian Timur, terutama Maluku. Adalah dalam rangka penyebaran Islam
itu pula, Fadhilah Khan dari Pasai datang ke Demak, untuk memperluas
wilayah kekuasaan ke Sunda Kelapa.
Dalam bidang
politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi
pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam, terutama yang mengancam
kehidupan politik maupun ekonomi. Persekutuan antara Demak dengan Cirebon dalam
menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa dapat diambil sebagai contoh. Contoh
lainnya adalah persekutuan kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis
dan Kompeni Belanda yang berusaha memonopoli pelayaran dan perdagangan.
Meskipun
demikian, kalau kepentingan politik dan ekonomi antar kerajaan-kerajaan Islam
itu sendiri terancam, persamaan agama tidak menjamin bahwa permusuhan tidak
ada. Peperangan di kalangan kerajaan-kerajaan Islam sendiri sering terjadi.
Misalnya, antara Pajang dan Demak,
Ternate dan Tidore, Gowa-Tallo dan Bone. Oleh
karena kepentingan yang berbeda di antara kerajaan-kerajaan itu pula, sering
satu kerajaan Islam meminta bantuan pada pihak lain, terutama Kompeni Belanda,
untuk mengalahkan kerajaan Islam yang lain.
Hubungan antar
kerajaan-kerajaan Islam lebih banyak terletak dalam bidang budaya dan
keagamaan. Samudera Pasai dan kemudian Aceh yang dikenal dengan Serambi
Makkah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Dari sini
ajaran-ajaran Islam tersebar keseluruh pelosok Nusantara melalui karya-karya
ulama dan murid-muridnya yang menuntut ilmu ke sana. Demikian pula halnya
dengan Giri di Jawa Timur terhadap daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Karya-karya
sastra dan keagamaan dengan segera berkembang di kerajaan-kerajaan Islam. Tema
dan isi-isi karya itu sering kali mirip antara satu dengan yang lain. Kerajaan
Islam itu telah merintis terwujudnya idiom kultural yang sama, yaitu
Islam. Hal ini menjadi pendorong terjadinya interaksi budaya yang makin erat.[17]
E.
WALISONGO
Kata
wali berasal dari bahasa Arab وَلِيُّ = Kekasih. Dalam
Al-Quran banyak terdapat kata wali yang berarti kekasih. Diantaranya yaitu :
Q.S Al-Baqarah
ayat 257
ٱللَّهُ
وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ
ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا
خَٰلِدُونَ ٢٥٧
Artinya :
Allah
Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.
Q.S Ali Imran
ayat 68
إِنَّ أَوۡلَى
ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٨
Artinya :
Sesungguhnya
orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang
yang
mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada
Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang
orang yang
beriman.
Q.S As-Sajadah
ayat 4
ٱللَّهُ ٱلَّذِي
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ
ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ وَلَا شَفِيعٍۚ
أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ٤
Artinya :
Allah
lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam
enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy.Tidak ada bagi kamu selain
dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa´at.
Maka apakah kamu tidak memperhatikan.
Ayat-ayat
tersebut menggambarkan tentang adanya orang-orang yang sangat taat beribadah
kepada Allah, sehingga mereka disebut kekasih Allah. Para walisongo ditinjau
dari kepribadian dan perjuangan dakwahnya termasuk kekasih Allah. Dan ditinjau
dari tugas dan fungsinya dalam kerajaan Demak, mereka adalah para penguasa
pemerintahan. Oleh karena itu mereka mendapat gelar Susuhunan (Sunan), yaitu
sebagai penasehat dan pembantu raja. Dengan demikian maka sasaran pendidikan
dan dakwah Islam meliputi rakyat umum dan kalangan pemerintah.
Adapun
Walisongo itu adalah :
1)
Maulana Malik Ibrahim = Maulana Syekh Mgribi
2)
Sunan Ampel = Raden Rahmat
3)
Sunan Bonang = Maulana Ibrahim
4)
Sunan Derajat = Raden Qasim
5)
Sunan Giri = Raden Paku = R. Ainulyaqin
6)
Sunan Kudus = R. Amin Haji = Ja’far Sadiq
7)
Sunan Muria = R. Prawoto = R. Said
8)
Sunan Kalijaga = R. Syahid
9)
Sunan Gunung Jati = R. Abd. Qadir = Syarif Hidayatullah = Falatehan
= Fatahillah.
Maulana
Malik Ibrahim berhasil mencetak kader mubalig selama 20 tahun. Wali-wali
lainnya adalah murid dari Maulana Malik Ibrahim yang digembleng
dengan pendidikan sistem pondok pesantren. Antara Malik Ibrahim dengan pra wali
yang lain atau antara para wali itu sendiri selain diikat oleh hubungan
pendidikan juga diikat oleh hubungan kekeluargaan, yaitu dengan cara menjadi
besan, menantu atau ipar. Sistem seperti ini juga pernah dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW.
Sunan
Ampel mewarisi pondok pesantren ayahnya yaitu Malik Ibrahim. Sunan Ampel
diambil menantu oleh penguasa Tuban bernama Ario Tejo. Di sini dapat
disimpulkan adanya hubungan yang mesra antara ulama dan umara. Hubungan itu
dijalin dengan dakwah. Selain itu Ario Tejo membutuhkan bantuan R. Rahmat yang
besar wibawanya yang dapat mengamankan daerah Tuban, Gresik dan Surabaya,
sebagai daerah kunci kemakmuran negara. Di antara murid Sunan Ampel ialah R.
Fatah putra raja Majapahit terakhir. Sunan Ampel ikut mensponsori dan mendesain
berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Demak.
Sunan
Bonang adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang menaruh perhatian yang besar pada
bidang kebudayaan dan kesenian. Daerah opresinya adalah Surabaya dan Rembang.
Beliau mengarang lagu-lagu gending Jawa yang berisi tentang keislaman, antara
lain tembang Mocopat.
Sunan
Derajat adalah putra Sunan Ampel, adik dari Sunan Bonang, menjadi penasihat dan
pembantu R. Fatah dalam pemerintahan. Perhatiannya secara khusus ditujukkan
kepada kesejahteraan sosial dan para fakir miskin, mengorganisir amil, zakat
dan infak. Beliau menganjurkan hidup sederhana dan selalu tirakat baik kepada
santrinya, kepada rakyat dan kepada para pembesar negara Demak.
Sunan
Giri memiliki kepribadian sebagai stabilisator. Ia adalah saudara sepupu Sunan
Ampel. Ayahnya berdarah ulama (Maulana Ishaq) dan ibunya berdarah bangsawan
(putri Belambangan). Beliau diambil menantu oleh Sunan Ampel. Sunan Giri
menitikberatkan kegitannya di bidang pendidikan. Dalam susunan materi pengajarn
ia mengadakan kontak dengan kerajaan Pase di Aceh. Ke pondok pesantrennya
berdatangan santri-santri dari berbagai daerah Indonesia bagian Timur dan
Kalimantan. Dengan demikian maka Sunan Giri berfungsi sebagai pemersatu
Indonesia di bidang pendidikan Islam.
Sunan
Kudus adalah menantu Sunan Bonang mendalami Ilmu Syariat. tugasnya menjadi
Hakim Tinggi di Demak dan menjadi panglima militer. Bidang hukum syariat yang
mendapat perhatian lebih khusus adalah bidang muamalat.
Sunan
Muria menjadi ipar Sunan Kudus. Ia terkenal zuhud dan menjadi guru tasawuf yang
terkenal pendiam, tetapi pandangan dan fatwanya sangat tajam. tempat tinggalnya
terpencil di kaki gunung Muria, sunyi dan jauh dari keramaian. tempat seperti
itu memang disenangi orang sufi yang menjalankan tariqat.
Sunan
Kalijaga merupakan ipar dari Sunan Ampel, beristrikan saudara Sunan Giri. Sejak
kecilnya iaa hidup di kalangan keluarga isatana Tumenggung Ario Tejo di Tuban.
Ia dididik alam bidang pemerintahan dan kemiliteran, khusunya di bidang
angkatan laut. Ia ahli di bidang pembuatan kapal laut yang dibuat dari kayu
jati. Ia membuat salah satu tiang pokok masjid Demak dari potongan-potongan
kayu jati yang disusun rapi dan kuat.
Sunan
Gunung Jati telah mendapat kemenangan merebut kota Jakarta dari tangan Portugis
pada tahun 1527 M. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq dan adik dari Sunan Giri,
ain ibu, ibunya berasal dari Arab suku Quraisy. Ia menjadi menantu dari Sultan
Demak dan diangkat menjadi penguasa Jawa Barat yang berkedudukan di Cirebon. Ia
adalah tokoh politik, militer dan ulama dan menjadi raja muda Cirebon dan
Banten di bawah lindungan Demak.
Jadi
Walisongo aalah orang-orang saleh yang tingkat takwanya kepada Allah sangat
tinggi, pejuang dakwah Islam dengan keahlian yang berbeda. Ada yang ilmu
tasawufnya, ada seni budayanya, ada memegang pemerintahan dan militer secara
langsung. Semuanya diabdikan untuk pendidikan dan dakwah Islam.
F.
Kerajaan-Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda
.
1. Situasi dan Kondisi
Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia Ketika Belanda Datang
Keadaan kerajaan-kerajaan islam
menjelang datangnya Belanda di akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17 ke
indonesia berbeda-beda bukan hanya berkenaan dengan kemajuan
politik, tetapi juga proses islamisasinya.
Di Sumatra, setelah malaka jatuh
ketangan portugis percaturan politik di kawasan selat malaka merupakan
pertjuangan segitiga: Aceh, Portugis, dan Johor. Pada abad ke16 tampaknya
aceh menjadi dominan terutama karena para pedagang muslim menghindar dari
malaka dan memilih aceh sebagaipelabuhan transit. Selain itu ekspansi aceh
ketika itu berhasil menguasai perdagangan pantai barat Sumatra. Ketika itu aceh
memang sedang berada dalam masa kejayaan dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda.
Dan ketika sultan iskandar muda telah wafat kemudian di gantikan oleh
Sultan Iskandar Tsani. Sultan ini masih mampu mempertahankan kebesaran aceh.
Setelah ia meninggal dunia aceh secara bedrturut-turut di pimpin oleh tiga orang
wanita selama 59 tahun. Ketika itulah aceh mulai mengalami kemunduran.
Di jawa, pusat kerajaan
islam sudah pindah dari pesisir kedalam, yaitu dari Demak ke Pajang
kemudian Ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar
yang sangat menentukan perkembangan sejarah islam di Jawa.
Sementara itu di Banten, di pantai
Jawa Barat muncul sebagai simpul penting antara lain karena perdagangan adanya
dan tempat penampungan pelarian dari pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mrosotnya peran pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur akibat politik mataram dan
munculnya makasar sebnagai pusat perdagangan membuat jaringan perdagangan dan
rute pelayaran dagang di Indonesia bergeser.
Di sulawesi, pada akhir ke 16
pelabuhan makasar berkembang dengan pesat akan tetapi ada factor- factor
historis lain yang mempercepat perkembangan.
2. Latar Belakang Kedatangan Belanda, VOC,
Hindia Belanda
Tujuan Belanda datang ke Indonesia,
untuk mengembangankan usaha perdangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang
mahal harganya di Eropa. Dan perseruan Amsterdam mengirim beberapa armada kapal
dagangannya ke Indonesia, dan diikuti banyak perseroan lain yang juga ingin
berdagang dan berlayar ke Indonesia. Kemudian perseroan-perseroan itu bergabung
dan di sahkan oleh Staten General Republik dengn satu piagam yang
memberi hak kusus untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan di
kawasan Kepulauan Nusantara. Perseroan itu bernama VOC.
Dalam usaha mengembangkan usaha
perdagangannya. VOC nampak ingin melakukan Monopoli, karena itu, aktivitas ingin
menguasai perdagangan Indonesia menimbulkan perlawanan pedagang-pedagang
pribumi karena merasa terancam. Pada tahun 1798 VOC dibubarkan karena
sebelumnya pada 1795 izin operasinya di cabut. Dibubarkannya VOC
disebabkan beberapa factor. Dengan bubarnya VOC pada pergantian abad ke 18
secara resmi Indonesia berpindah ketangan pemerintahan Belanda, karena
pemerintahan belanda memanfaatkan daerah jajahan untuk memberi keuntungan
sebanyak-banyaknya kepada negri induk, guna menanggulangi masalah ekonomi Belanda yang
sedang mengalami kebangkrutan akibat perang. Pada tahun 1830 pemerintah
hindia-belanda menjalankan system tanam paksa. Dan pada tahun 1901 belanda
menerapkan politik etis atau politik balas budi.
3. Penetrasi Politik Belanda
VOC sejak semula memang diberi izin
oleh pemerintah belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka
mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. Oleh karena itu, VOC dibantu oleh
kekuatan militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan
mempunyai wilayah mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya. Dengan
perlengkapan yang lebih maju VOC, melakukan politik ekspansi. Dengan kata lain
abad ke 17 dan 18 adalah priode ekspansi dan monopoli dalam sejarah kolonial di
Indonesia. Menjelang akhir abad ke 18 ekspansi di wilayah iniberhasil di jawa.
Penetrasi politik belanda juga
terjadi di kerajaan banjarmasin. Belanda pertama kali datang ke kerajaan ini
pada abad ke 17. untuk memperkokoh kedudukannya belanda mengangkat seorang
gubernur di daerah itu. Ini berarti secara de facto, belanda sudah
menjadi penguasa politik. Ini pula yang menjadi latar belakang terjadinya
perang banjarmasin yang di pimpin pangeran Antarsari.
4. Perlawanan Terhadap Penjajahan Belanda
Terdapat beberapa
perlawanan-perlawanan dan perlawanan yang terbesar dan terlama ada empat :
1) Perang Paderi di Minang Kabau
Pada
perang paderi ini Balanda berkali-kali mendapatkan kesulitan dalam melawan kaum
paderi, dan kaum paderi sendiri lolos berkali-kali dari tipuan penghianatan
Belanda. Akan tetapi pada akhirnya kaum paderi itu kalah karena Belanda membuat
tipuan muslihat dengan jebakan-jabakannya.
2) Perang Diponegoro
Perang
Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah colonial Belanda di
jawa. Pemicu terjadinya perang ini adalah rencana pemerintah Hindia Belanda
untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik pangeran diponegoro dan harus
membongkar makam keramat. Patok-patok yang ditanam oleh pemerintah dicabut oleh
pihak Diponegoro. Pihak Belanda ingin mengadakan perundingan dengan pangeran
Diponegoro, setelah itu pangeran Diponegoro pindah ke selarong untuk memimpin
perlawanan Belanda dengan menggariskan maksud dan tujuan. Dalam perang
Diponegoro di nobatkan sebagai pemimpin tertinggi jawa dengan gelar Sultan
Ngabdulhamid Herucakra Kabiril Mukminin Kholifatullah Ing Tanah Jawa.
Pada
suatu keteka pangeran Diponegoero diundang oleh risiden untuk melanjutkan
rundingan.akan tetapi pada rundingan ini pangeran Diponegoro malah di tangkap
dan diasingkan karena ingin tetap mempertahankan agar di beri kebebasan untuk
mendirikan Negara yang merdeka berdasarkan islam
3) Perang Banjarmasin
Perang
banjarmasin ini dilatar belakangi karma adanya campur tangan belanda dalam
pemilihan sultan muda, karena sultan yang berkuasa pada masa itu sudah tua.
Yang mana jabatan itu akan diserahkan pada putranya yang bernama Abdurrahman
akan tetapi ia tidak berusia panjang. Dan sebagai penggantinya sultan menunjuk
cucunya yang bernama Hidayat. Akan tetapi belanda kurang setuju drngan pilihan
sultan yang mana belanda lebih berpihak pada pangeran Tamjid. dari terpilihnya
pangeran Tamjid ini rakyat kurang setuju timbullah kericuan diberbagai
wilayah banjarmasin. Ketika itulah perang banjarmasin di anggap dimulai.
4) Perang Aceh
Pada
awal abad ke 19, sebenarnya hegemoni kerajaan aceh di Sumatra utara sudah
sangat menurun, tatapi kedaulatanya masih di akui oleh Negara-negara barat.
Pada tanggal 30 maret 1857 di tanda tangani kontrak antara aceh dan pemerintah
hindia belanda yang berisi kebebasan perdagangan kontrak itu memberi kedudukan
kepada belanda disana dan di perkuat oleh traktat siak yang di tanda tangani
pada tahun itu juga.
Setelah
terusan suez dibuka, pelabuhan aceh menjadi sangat strategis, karena
berada dalam urat nadi pelayaran internasional. Berdasarkan traktat Sumatra 2
nopember 1871, pihak belanda di beri kebebasan memperlus daerah kekuasaany di
aceh, sedangkan inggris memperoleh kebebasan berdagang di daerah siak.
Itulah
awal perang aceh yang menurut waktu dan ruang tdak ada taranya dalam
sejarah perlawanan terhadap kekuasaan colonial perang ini disebut juga perang
rakyat, karena seluruh rakyat aceh terlibat secara aktiv melawan colonial.
Pejuang aceh dipersenjatai oleh idiologi perang sabil sepanjang berlangsungnya
perang yang jelas mempersulit belanda.
5. Politik Islam Hindia Belanda
Indonesia merupakan negeri
berpenduduk mayoritas muslim. Agama islam secara terus menerus menyadarkan
pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkraman pemerintah
kafir. Perlawanan dari raja-raja islam terhadap pemerintahan colonial bagai tak
pernah henti. Padam di suatu tempat muncul di tempat lain. Belanda menyadari
bahwa perlawana itu di inspirasi oleh ajaran islam.
Oleh karena itu, agam islam
dipelajari secara ilmiah di negeri belanda. Seiring dengan itu, disana juga di
selenggarakan indologie, ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk
beluk penduduk Indonesia. Semua itu di maksudkan untuk
mengukuhkan kekuasan belanda di Indonesia. Hasil dari pengkajian itu,
lahirlah apa yang di kenal dengan "politik islam". Tokoh utama dan
peletak dasarnya adalah Prof. Snouck hurgronje . dia berada di Indonesia
antara tahun 1889 dan 1906.
Berdasarkan analisisnya, islam
dapat dibagi menjadi dua bagan, yang satu islam religius dan yang lain islam
politik terhadap masalah agama, pemerintah belanda di sarankan agar bersikap
toleran yang di jabarkan di dalam sikap netral terhadap kehidupan keagamaan.
Dalam rangka membendung pengaruh
islam, pemerintah belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia,
terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka harus di tarik kea rah westernisasi.
Analisa snouck hurgronje tentng
potensi pribumi dan teotrinya tentang pemisahan unsure agama dari unsure
politik, tidak sejalan dengan perkembangan situasi, terutam 20 tahun terahir
kekuasaan belanda di Indonesia. oleh karena itu, peranan
politik kantoor voor islandsche zakensemakin menghilang pada tahun-tahun
terakhir, meskipun wewenangnya mengawasi gerakan politik lebih dipertegas sejak
tahun 1931. Kantoor ini memang harus menjamin kelangsungan pemerintah
hindia Belanda.[18]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Ada beberapa pendapat mengenai masuknya
Islam ke Indonesia. Teori yang dapat dijadikan sebagai acuan jug atidak hanya
satu. Jadi memang datangnya agama Islam ke Indonesia belum di ketahui secara
pasti, ini dikarenakan kejadian telah berlansung sejak dahulu.Sehingga orang
pada masa kini hanya menerka-nerka prosesnya. Namun bersamaan dengan itikad
itu, kita jga dapat memperoleh pelajaran mengenai masuknya Islam ke Indonesia
sehingga dapat menambah wawasan dan menambah keimanan kita.
B.
SARAN
Kami berharap, dengan adanya makalah ini
pembaca akan mapu mengetahui tentang proses masuknya agama Islam ke Indonesia
serta mampu untuk menjelaskan bagaimana proses masuknya Islam ke Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT
RAJAGRAFINDO PERSADA.
Suryanegara, Ahmad Mansur.2010.API SEJARAH.Bandung:Salamadani Pustaka
Semesta.
Muchtarom, H Zuhairini, dkk. 2004. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM.
Jakarta : Bumi Aksara. Hal.
Sunanto, Prof.Dr. Musyrifah.2014.SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA.
Jakarta : PT RAJA GRAFINDO PERSADA.
Samsul, MunirAmin.2010.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta.Amzah
Badri,Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta:
Rajawali Pers.
Nurahman, Adi . (2013). Sejarah Islam Indonesia. Diakses dari http://adinurahman.blogspot.co.id pada tanggal 15 November 2016
Anto. 2008.Perkembangan dan Akulturasi Islam di
Indonesia.Diakases dari http://indonesianto07.wordpress.com/2008/11/09/perkembangan-dan-akulturasi-islam-di-indonesia/
diakses pada
tangal 17 Novemeber 2016
Syahputra,Andre.(2014).Sejarah Masuknya Islam di
Indonesia.Diakses dari http://andresyahputra2410.blogspot.co.id/2014/05/makalah-sejarah-masuknya-islam-di.html pada
tanggal 17 November 2016
Dayat.
(2014). Hubungan Politik dan Keagamaan Antara Kerajaan Islam Indonesia. Dari http://hidayat-al-ihsan.blogspot.co.id/2014/05/hubungan-politik-dan-keagamaan-antar_7.html diakases pada tanggal 5 Desember 2016
Yulianto,
Joko Adi. (2011). Kerajaan-Kerajaan Islam Pada Masa Penjajahan. Diakses dari http://pandidikan.blogspot.co.id/2011/01/kerajaan-kerajaan-islam-pada-masa.html pada tanggal 5 Desember 201
Komentar
Posting Komentar