BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal dengan pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dengna berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titk perhatian, terutama hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting bagi Cina dan India. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian , tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah tekah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Insonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan , abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah,dalam makalah ini akan membahas tentang Masuknya Islam ke Indonesia.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja Teori Masuknya Islam ke Indonesia?
2.      Apa saja metode-metode masuknya Islam ke Indonesia?
3.      Bagaimana perkembangan Islam di Nusantara?
4.      Apa saja kerajaan Islam yang masuk ke Indonesia?
5.      Siapa Wali Songo itu?

C.    TUJUAN
1.      Mengetahui teori-teori masuknya Islam ke Insdonesia.
2.      Mengetahui metode-metode masuknya Islam ke Indonesia.
3.      Mengetahui perkembangan Islam di Nusantara.
4.      Mengetahui kerajaan Islam di Indonesia.
5.      Mengetahui Wali Songo.

D.    MANFAAT
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkakn memiliki manfaat agar mahasiswa mengetahi tentang bagaimana sejarah masuknya Islam ke Indoesia, dan diharapkan setelah membaca makalah ini mahasiswa bisa meningkatkan iman dan taqwa,dan bisa lebih mengahargai apa yang sudah diperjuangkan orang terdahulu dalam menegakkan agama Islam.



















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Islam di Indonesia baik secara historis maupun sosiologis sangat kompleks, terdapat banyak masalah, misalnya tentang sejarah dan perkembangan Islam.  Oleh karena itu, para sarjana sering berbeda pendapat.Secara umum beberapa karya awal sepakat menyatakan, bahwa Islam datang ke wilayah Nusantara melalui jalur-jalur pelayaran di sepanjang kepulauan Indonesia secara damai dan kultural, bukan dengan kekuatan politik sebagaimana yang terjadi di kawasan lain. Sampai saat ini, pembahasan tentang kapan, siapa, dan dari mana Islam datang ke Indonesia itu masih saja diperdabatkan. Setidaknya tiga versi yang sering menjadi rujukan utama penulisan tentang perkembangan Islam di Indonesia.
1)   Teori Persia
Islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang dari Persia sekitar abad ke-13 Masehi. Wilayah Samudera Pasai diyakini sebagai tempat pijakan pertama. Menurut teori ini, adanya persamaan tradisi beberapa kelompok masyarakat Islam dengan tradisi masyarakat Persia. Misalnya, peringatan Suro yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram, dan tradisi Tabut yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumatera Barat, merupakan tradisi yang persis dilakukan masyarakat Iran untuk memperingati meninggalnya Sayyidina Husain.[1]
2)   Teori India
          Islam datang ke Indonesia pada abad ke-12 atau permulaan abad ke-13. Islam dibawa oleh para pedagang India yang berasal dari Gujarat, Malabar, dan Bengali. Teori ini dijelaskan oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden, yang kemudian dianut oleh Snouck Hurgronje. Dalam pandangan Hurg Ronje, teori ini didasarkan pada pola-
 [1]  Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSAD.Hal. 394
hubungan yang sudah terjalin berabad-abad antara penduduk Indonesia dengan para pedagang dari India. Pandangan Hurgronje ini juga bertumpu pada perilaku masyarakat Islam Indonesia yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Arab.[2]
3)   Teori Arab
                        Islam datang pada awal abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan langsung dari Arab. Sumber teori ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku tentang sejarah China yang berjudul Chiu Thang Shu. Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, yang pernah melakukan kunjugan diplomatikke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni’, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku ini menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni’ itu merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.
                        Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada Dinasti Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang teori ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ke-7. Tentu saja, untuk sampai ke arah -
 [2]  Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA.Hal. 395

tujuan, kapal-kapal ini harus melalui jalur pelayaran Nusantara.
Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim ke China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Mereka umumnya ingin mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat dikenal pada masa itu. Kunjugan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 Hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.
Selain di Zabaj atau Sriwijaya, daerah lain yang sering disebut-sebut tempat persinggahan para delegasi muslim adalah Aceh, Minangkabau dan bahkan sampai ke pusat rempah-rempah, Maluku. Di sana mereka melakukan dakwah dan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat sekitarnya. Sebab, banyak dari delegasi-delegasi tersebut adalah seorang da’i yang khusu dikirim khalifah untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat Timur Jauh, termasuk Indonesia. [3]
4)   Teori Cina
Prof.Dr.Slamet Muljana, 1968 dalam Runtuhja Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara, tidak hanya berpaendapat Soeltan Demak adalah orang peranakan Cina. Namun juga, menyimpulkan bahwa para Wali Songo adalah orang peranakan Cina.Pendapat ini bertolak dari Kronik Klenteng Sam Po Kong.
Misalnya Soeltan Demak Panembahan Fatah dalam Kroni Kenteng Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun nama Cina-nya.Arya Damar sebagai pengasuh panembahan Jimbun pada waktu di Palembang, bernama Cina, Swan-
 [3]  Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA. Hal. 395
Liong. Sultan Terenggana disebutkan dengan nama Cina,Tung Ka Lo.Sedangkan Wali Songo antara lain, Sunan Ampel dengan nama Cina, Bong Swi Hoo.Sunan Gunung Djati dengan nama Cina, Toh A Bo.[4]
Faktor Penyebab Indonesia Dikenal Bangsa-Bangsa Lain
Ada dua faktor yang menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khusunya oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur Jauh sejak dahulu kala, yaitu :
1)      Faktor letak geografisnya yang strategis. Indonesia berada di persimpangan jalan raya Internasional dari jurusan Timur Tengah menuju Tiongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua Amerika dan Australia.
2)      Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain, misalnya : rempah-rempah.[5]

B.  Metode-metode masuknya Islam ke Indonesia :
a.       Perdagangan yang mempergunakan sarana pelayaran.
b.      Dakwah, yang dilakukan oleh mubalig yang berdatangan bersama pedagang.Para mubalig itu juga bisa jadi juga para sufi pengembara.
c.       Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, mubalig dengan anak bangsawan Indonesia.
d.      Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik.  Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.Pusat-pusat pendidikan dan penyebaran di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan mengitim mubalig local, di antaranya mengirim Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
[4] Suryanegara, Ahmad Mansur.2010.API SEJARAH.Bandung:Salamadani Pustaka Semesta. Hal. 100
 [5] Muchtarom, H Zuhairini, dkk. 2004. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM. Jakarta : Bumi Aksara. Hal.

e.       Tasawuf dan tarekat, sudah diterangkan bahwa bersamaandengan pedagang, datang pula para ulama, dai, dan sufi pengembara. Para ulama dan sufi itu kemudian ada yang diangkat menjadi penasihat dana tau pejabat agama di kerajaan. Di Aceh ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri. Abd. Rauf Singkel. Demikian juga kerajaan-kerajaan di Jawa pempunyai penasihat yang bdergelar wali, yang terkenal adalah Wali Songo.[6]
f.       Di maluku dan sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk islam setelah rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya islam didaerah ini. Di samping itu, baik di sumatera dan jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan-kerajaan non-islam. Kemenangan kerajaan islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu masuk islam.[7]
Para sufi menyebarkan Islam dengan dua cara:
a)      Dengan membentuk kader mubalig, agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.
b)      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat
Melalui saluran-saluran sebagai Dari tiga teori di atas, diselenggarakanlah seminar masuknya agama Islam ke Indonesia di Medan pada tahun 1963. Kesimpulan dari seminar tersebut adalah sebagai berikut :
1)      Menurut sumber bukti yang terbaru, Islam pertama kali datang ke Indonesia pada abad ke-7 M/1 H dibawa oleh pedagang dan mubalig dari negeri Arab.

 

[6] Sunanto, Prof.Dr. Musyrifah.(2004..Hal.10-12)
[7] Nurahman, Adi (2013) http://adinurahman.blogspot.co.id
2)      Daerah yang pertama kali dimasuki ialah pantai barat pulau Sumatera yaitu di daerah Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri. Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di Pase.
3)      Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan, dan proses itu berjalan secara damai.
4)      Keadtangan Islam di Indonesia ikut mencerdaskan rakyat dan membina karakter bangsa. Karakter tersebut dapat dibuktikan pada perlawanan rakyat melawan penjajahan bangsa asinng dan daya tahnnya mempertahankan karakter tersebut selama dalam zaman penjajahan Barat dalam waktu 350 tahun.[8]

C.  Perkembangan Islam di Nusantara
Perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina. Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, di samping berita-berita asing, juga makam-makam Islam, dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Islam datang di Indonesia dengan membawa peradaban baru yang memiliki corak keislaman secara khusus. Beberapa bentuk peradaban Islam mewarnai kehidupan dan pemikiran masyarakat Islam di Indonesia. Akulturasi antara peradaban Islam dan peradaban masyarakat setempat menjadi terpadu yang membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Islam Indonesia. Di antara peradaban Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut:[9]


 

[8] Sunanto, Prof.Dr. Musyrifah.(2004..Hal.10-12)
[9] Nurahman, Adi (2013)
1)   Sistem birokrasi keagamaan
Karena penyebaran Islam di Indonesia pertama kali dilakukan oleh para pedagang, pertumbuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan penting di Sumatra, Jawa dan pulau lainnya. Kerajaan-kerajaan yang pertama kali berdiri juga didaerah pesisir. Demikian halnya dengan kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten, Cirebon, Ternate dan Tidore.
Ibu kota kerajaan selain merupakan pusat politik dan perdagangan, juga merupakan tempat berkumpul para ulama dan mubaligh Islam. Ibnu Batutah menceritakan, Sultan Kerajaan Samedra Pasai, Sultan Al-Malik Az-zahir, di kelilingi oleh ulama dan mubaligh Islam, dan Raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai masalah-masalah keagamaan. Raja-raja aceh mengangkat para ulama menjadi penasihat dan pejabaat di bidang Keagamaan.  Keberadaan Ulama sebagai penasehat raja, terutama dalam bidang keagamaan juga terdapat dikerajaan-kerajaan Islam lainnya. Adapun disamping sebagai penasehat raja , para ulama juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan yang memiliki tingkat dan istilah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, pada umumnya disebut qadhi .meskipun dengan istilah yang berbeda, tetapi penetapan hukum Islam di satu kerajaan lebih jelas dibandingkan dengan kerajaan  lain. Kedudukan jabatan ulama yang terkuat diantarannya adalah di Aceh dan di Banten.[10]
Birokrasi keagamaan juga berlangsung di beberapa keraajaan Islam seperti di Kesultanan Demak di Jawa. Semasa menjadi raja, Sultan Fatah diangkat oleh para walisongo sebagai raja Demak. demikian pula yang berlaku di kerajaan Mataram Islam, sultan  agung bahkan memberlakukan kebijakan  perpaduan  tahun   jawa  Saka disesuaikan  disesuaikan  dengan tahun hijriyah. Hal ini menunjukan perpaduan akulturasi budaya  setempat

[10] Samsul MunirAmin, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 410-411

(jawa) dengan tradisi hukum Islam yang dituangkan dengan system birokrasi keagamaan. Demikian pula yang berlaku di beberapa kerajaan lain di Indonesia pada umumnya.
2)   Peran Ulama dan karya-karyanya
Penyebaran dan pertumbuhan kebudayaan umat islam di Indonesia terletak di pundak para ulama. Paling tidak ada dua cara yang dilakukan. Yang pertama, membentuk para kader ulama yang akan bertugas sebagai mubaligh ke berbagai daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan islam yang dikenal dengan pesantren di jawa,dayah di Aceh, surau di minangkabau. Yang kedua, melalui karya-karya yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat yang jauh. Karya-karya tersebut mencerminkan perkembangan pemikiran dan ilmu-ilmu keagamaan di Indonesia pada masa itu. Pada abad ke 16 dan 17, banyak sekali muncul tulisan para cendekiawan Islam di Indonesia. Syed Muhammad Nuqaib Al-Attas menyatakan, Abad-abad itu menyaksikan suatu kesuburan dalam penuulisan sastra, filsafat, metafisika, dan teologi rasional yang tidak terdapat tolak bandingannya dimana-mana di zaman apapun di Asia Tenggara. Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa ketika tradisi pemikiran Islam mulai terbentuk di kepulauan Indonesia ini, di pusat dunia islam, bidang pemikiran itu telah mapan.[11]              
3)   Corak bangunan arsitek
Berkembangnya kebudayaan Iskam di Kepulauan Indonesia telah menambah khasanah budaya nasional Indonesia, serta ikut memberikan dan menetukan corak kebudayaan bangsa Indonesia.
Akan tetapi karena kebudayaan yang bekembang di Indonesia sudah begitu kuat di lingkunagan masyarakat maka berkembangnya kebudayaan Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada. Dengan demikian terjadi akulturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada.
 

[11]Samsul MunirAmin, Sejarah Peradaban Islam, hlm. 410-411
Hasil peroses akulturasi antara kebudayaan pra Islam dengan ketika Islam masuk tidak hanya bebentuk fisik kebendaan seperti seni bangunan, seni ukir atau pahat , dan karya sastra tetapi juga menyangkut pola hidup dan kebudayaan non fisik lainnya.
Beberapa contoh bentuk akulturasi yaitu, masjid dan menara, makam.

4)   Lembaga pendidikan Islam
Lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah berkembang dalam beberapa bentuk sejak zaman penjajahan Belanda. Salah satu bentuk pendidikan islam tertua di Indonesia adalah pesantren yang tersebar di berbagai pelosok. Lembaga pesantren di pimpin oleh seseorang ulama atau kiai. Untuk tingkatan lanjutan, tidak ada kurikulum yang jelas pada lembaga ini. Kemajuan seorang penuntut sangat perlu ditentukan oleh kerajinan, kesunguhan dan ketekunan masing-masing. Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam mempunyai konstribusi yang sangat besar dalam pembentukan budaya masyarakat Islam di Indonesia.[12]                 
D.  KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
Dari berbagai proses tersebut, Indonesia kemudian menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada perkembangannya ajaran Islam disalurkan melalui berbagai kerajaan yang berkembang di Indonesia. Kerajaan Islam yang pertama ada dan berkembang adalah kerajaan Samudera Pasai, dengan raja pertamanya yang bernama Sultan Malik al-Saleh (1297 M/696 H). Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh.
Di Jawa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Demak, yang dipimpin oleh raja pertamanya, Raden Patah. Kemudian ada pula kerajaan Pajang yang dipimpinoleh Jaka Tingkir. Kerajaan ini berdiri setelah meninggalnya  sultan
[12] Anto.(2008).
Demak tahun 1546 M. Ada pula kerajaan Mataram yang dipimpin pertamakali oleh Senopati.
Kemudian kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Selain di Sumatera dan Jawa, kerajaan Islam juga tumbuh di tempat lain di nusantara, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Di Kalimantan ada kerajaan Banjar (Kalimantan Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di Sulawesi ada kerajaan Gowa-Tallo, dengan sultan Alauddin (1591-1636) sebagai raja Islam yang pertama. Selain Gowa-Tallo, di Sulawesi ada kerajaan Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu). Mereka juga menerima Islam pada awal abad 17 M. Sementara itu di Maluku ada kerajaan Ternate yang memeluk Islam sekitar tahun 1460 dengan pimpinan seorang raja yang bernama Vongi Tidore.
1)   Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Secara pasti, mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi menurut pendapat Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.[13]
Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai.Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka.
[13] Syahputra,Andre.(2014)
2)   Kerajaan Demak
Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.
Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.[14]
3)   Kerajaan Banten
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi tentang kerajaan Demak, bahwa daerah ujung barat pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa dapat direbut oleh Demak, di bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Demak. Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri menetap di  Cirebon, dan  lebih  menekuni  hal  keagamaan. Dengan  di-
[14] Syahputra, Andrea.(2014)
berikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasar-dasar pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama, memerintah tahun 1552 – 1570.
Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten dapat berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.
4)   Kerajaan Mataram
Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.
Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.
5.   Kerajaan Gowa-Tallo
Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
6.   Kerajaan Ternate-Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agamaIslam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti,Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.[15]
7.  Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Aceh Besar. Disini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu diketahui kapan kerajaan ini muncul atau berdiri. Anas Machmud berpendapat, kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497). Dialah yang membangun kota Aceh Darussalam. Menurutnya pada masa pemerintahannya, Aceh Darussalam mulai mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan karena saudagar-saudagar Muslim yang  sebelumnya
[15] Syahputra, Andrea. (2014)
berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511 M. sebagai akibat penaklukan Malaka Utara melalaui selat Karimata dari Portugis itu, jalan dagang yang sebelumaya dari laut Jawa ke Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatera, kemudian ke Aceh. Dengan demikian Aceh ramai dikunjungi saudagar dari berbagai negeri.[16]
8.   Hubungan Politik dan Keagamaan Antara Kerajaan Islam Indonesia
Hubungan antara satu kerajaan Islam dengan kerajaan Islam lainnya  pertama-tama memang terjalin karena persamaan agama. Hubungan itu pada mulanya, mengambil bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Demikianlah misalnya antara Giri dengan daerah-daerah Islam di Indonesia bagian Timur, terutama Maluku. Adalah dalam rangka penyebaran Islam itu pula, Fadhilah Khan dari Pasai datang ke Demak, untuk memperluas wilayah kekuasaan ke Sunda Kelapa.
Dalam bidang politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang bukan Islam, terutama yang mengancam kehidupan politik maupun ekonomi. Persekutuan antara Demak dengan Cirebon dalam menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa dapat diambil sebagai contoh. Contoh lainnya adalah persekutuan kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis dan Kompeni Belanda yang berusaha memonopoli pelayaran dan perdagangan.
Meskipun demikian, kalau kepentingan politik dan ekonomi antar kerajaan-kerajaan Islam itu sendiri terancam, persamaan agama tidak menjamin bahwa permusuhan tidak ada. Peperangan di kalangan kerajaan-kerajaan Islam sendiri sering terjadi. Misalnya, antara Pajang dan Demak,
[16] Badri,Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: Rajawali Pers. 2011. Hlm. 208-210.


 Ternate dan Tidore, Gowa-Tallo dan Bone. Oleh karena kepentingan yang berbeda di antara kerajaan-kerajaan itu pula, sering satu kerajaan Islam meminta bantuan pada pihak lain, terutama Kompeni Belanda, untuk mengalahkan kerajaan Islam yang lain.
Hubungan antar kerajaan-kerajaan Islam lebih banyak terletak dalam bidang budaya dan keagamaan. Samudera Pasai dan kemudian Aceh yang dikenal dengan Serambi Makkah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Dari sini ajaran-ajaran Islam tersebar keseluruh pelosok Nusantara melalui karya-karya ulama dan murid-muridnya yang menuntut ilmu ke sana. Demikian pula halnya dengan Giri di Jawa Timur terhadap daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Karya-karya sastra dan keagamaan dengan segera berkembang di kerajaan-kerajaan Islam. Tema dan isi-isi karya itu sering kali mirip antara satu dengan yang lain. Kerajaan Islam itu telah merintis terwujudnya idiom kultural yang sama, yaitu Islam. Hal ini menjadi pendorong terjadinya interaksi budaya yang makin erat.[17]

E.  WALISONGO
Kata wali berasal dari bahasa Arab  وَلِيُّ = Kekasih. Dalam Al-Quran banyak terdapat kata wali yang berarti kekasih. Diantaranya yaitu :
Q.S Al-Baqarah ayat 257
ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥٧
Artinya :
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[17] Hidayat Al-Ihsan (2014)
Q.S Ali Imran ayat 68
إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٨
Artinya :
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang
yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang
orang yang beriman.
Q.S As-Sajadah ayat 4
ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ وَلَا شَفِيعٍۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ٤
Artinya :
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy.Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa´at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.
Ayat-ayat tersebut menggambarkan tentang adanya orang-orang yang sangat taat beribadah kepada Allah, sehingga mereka disebut kekasih Allah. Para walisongo ditinjau dari kepribadian dan perjuangan dakwahnya termasuk kekasih Allah. Dan ditinjau dari tugas dan fungsinya dalam kerajaan Demak, mereka adalah para penguasa pemerintahan. Oleh karena itu mereka mendapat gelar Susuhunan (Sunan), yaitu sebagai penasehat dan pembantu raja. Dengan demikian maka sasaran pendidikan dan dakwah Islam meliputi rakyat umum dan kalangan pemerintah.
Adapun Walisongo itu adalah :
1)      Maulana Malik Ibrahim = Maulana Syekh Mgribi
2)      Sunan Ampel = Raden Rahmat
3)      Sunan Bonang = Maulana Ibrahim
4)      Sunan Derajat = Raden Qasim
5)      Sunan Giri = Raden Paku = R. Ainulyaqin
6)      Sunan Kudus = R. Amin Haji = Ja’far Sadiq
7)      Sunan Muria = R. Prawoto = R. Said
8)      Sunan Kalijaga = R. Syahid
9)      Sunan Gunung Jati = R. Abd. Qadir = Syarif Hidayatullah = Falatehan = Fatahillah.
Maulana Malik Ibrahim berhasil mencetak kader mubalig selama 20 tahun. Wali-wali lainnya adalah murid dari Maulana Malik Ibrahim yang digembleng dengan pendidikan sistem pondok pesantren. Antara Malik Ibrahim dengan pra wali yang lain atau antara para wali itu sendiri selain diikat oleh hubungan pendidikan juga diikat oleh hubungan kekeluargaan, yaitu dengan cara menjadi besan, menantu atau ipar. Sistem seperti ini juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Sunan Ampel mewarisi pondok pesantren ayahnya yaitu Malik Ibrahim. Sunan Ampel diambil menantu oleh penguasa Tuban bernama Ario Tejo. Di sini dapat disimpulkan adanya hubungan yang mesra antara ulama dan umara. Hubungan itu dijalin dengan dakwah. Selain itu Ario Tejo membutuhkan bantuan R. Rahmat yang besar wibawanya yang dapat mengamankan daerah Tuban, Gresik dan Surabaya, sebagai daerah kunci kemakmuran negara. Di antara murid Sunan Ampel ialah R. Fatah putra raja Majapahit terakhir. Sunan Ampel ikut mensponsori dan mendesain berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Demak.
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang menaruh perhatian yang besar pada bidang kebudayaan dan kesenian. Daerah opresinya adalah Surabaya dan Rembang. Beliau mengarang lagu-lagu gending Jawa yang berisi tentang keislaman, antara lain tembang Mocopat.
Sunan Derajat adalah putra Sunan Ampel, adik dari Sunan Bonang, menjadi penasihat dan pembantu R. Fatah dalam pemerintahan. Perhatiannya secara khusus ditujukkan kepada kesejahteraan sosial dan para fakir miskin, mengorganisir amil, zakat dan infak. Beliau menganjurkan hidup sederhana dan selalu tirakat baik kepada santrinya, kepada rakyat dan kepada para pembesar negara Demak.
Sunan Giri memiliki kepribadian sebagai stabilisator. Ia adalah saudara sepupu Sunan Ampel. Ayahnya berdarah ulama (Maulana Ishaq) dan ibunya berdarah bangsawan (putri Belambangan). Beliau diambil menantu oleh Sunan Ampel. Sunan Giri menitikberatkan kegitannya di bidang pendidikan. Dalam susunan materi pengajarn ia mengadakan kontak dengan kerajaan Pase di Aceh. Ke pondok pesantrennya berdatangan santri-santri dari berbagai daerah Indonesia bagian Timur dan Kalimantan. Dengan demikian maka Sunan Giri berfungsi sebagai pemersatu Indonesia di bidang pendidikan Islam.
Sunan Kudus adalah menantu Sunan Bonang mendalami Ilmu Syariat. tugasnya menjadi Hakim Tinggi di Demak dan menjadi panglima militer. Bidang hukum syariat yang mendapat perhatian lebih khusus adalah bidang muamalat.
Sunan Muria menjadi ipar Sunan Kudus. Ia terkenal zuhud dan menjadi guru tasawuf yang terkenal pendiam, tetapi pandangan dan fatwanya sangat tajam. tempat tinggalnya terpencil di kaki gunung Muria, sunyi dan jauh dari keramaian. tempat seperti itu memang disenangi orang sufi yang menjalankan tariqat.
Sunan Kalijaga merupakan ipar dari Sunan Ampel, beristrikan saudara Sunan Giri. Sejak kecilnya iaa hidup di kalangan keluarga isatana Tumenggung Ario Tejo di Tuban. Ia dididik alam bidang pemerintahan dan kemiliteran, khusunya di bidang angkatan laut. Ia ahli di bidang pembuatan kapal laut yang dibuat dari kayu jati. Ia membuat salah satu tiang pokok masjid Demak dari potongan-potongan kayu jati yang disusun rapi dan kuat.
Sunan Gunung Jati telah mendapat kemenangan merebut kota Jakarta dari tangan Portugis pada tahun 1527 M. Ia adalah putra dari Maulana Ishaq dan adik dari Sunan Giri, ain ibu, ibunya berasal dari Arab suku Quraisy. Ia menjadi menantu dari Sultan Demak dan diangkat menjadi penguasa Jawa Barat yang berkedudukan di Cirebon. Ia adalah tokoh politik, militer dan ulama dan menjadi raja muda Cirebon dan Banten di bawah lindungan Demak.
Jadi Walisongo aalah orang-orang saleh yang tingkat takwanya kepada Allah sangat tinggi, pejuang dakwah Islam dengan keahlian yang berbeda. Ada yang ilmu tasawufnya, ada seni budayanya, ada memegang pemerintahan dan militer secara langsung. Semuanya diabdikan untuk pendidikan dan dakwah Islam.


F. Kerajaan-Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda
.
1.      Situasi dan Kondisi Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia Ketika Belanda Datang
Keadaan kerajaan-kerajaan islam menjelang datangnya Belanda di akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17 ke indonesia berbeda-beda bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik, tetapi juga proses islamisasinya.
Di Sumatra, setelah malaka jatuh ketangan portugis percaturan politik di kawasan selat malaka merupakan pertjuangan segitiga: Aceh, Portugis, dan Johor. Pada abad ke16 tampaknya aceh menjadi dominan terutama karena para pedagang muslim menghindar dari malaka dan memilih aceh sebagaipelabuhan transit. Selain itu ekspansi aceh ketika itu berhasil menguasai perdagangan pantai barat Sumatra. Ketika itu aceh memang sedang berada dalam masa kejayaan dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Dan ketika sultan iskandar muda telah wafat kemudian di gantikan oleh Sultan Iskandar Tsani. Sultan ini masih mampu mempertahankan kebesaran aceh. Setelah ia meninggal dunia aceh secara bedrturut-turut di pimpin oleh tiga orang wanita selama 59 tahun. Ketika itulah aceh mulai mengalami kemunduran.
Di jawa, pusat kerajaan islam sudah pindah dari pesisir kedalam, yaitu dari Demak ke Pajang kemudian Ke Mataram. Berpindahnya pusat pemerintahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembangan sejarah islam di Jawa.
Sementara itu di Banten, di pantai Jawa Barat muncul sebagai simpul penting antara lain karena perdagangan adanya dan tempat penampungan pelarian dari pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mrosotnya peran pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur akibat politik mataram dan munculnya makasar sebnagai pusat perdagangan membuat jaringan perdagangan dan rute pelayaran dagang di Indonesia bergeser.
Di sulawesi, pada akhir ke 16 pelabuhan makasar berkembang dengan pesat akan tetapi ada factor- factor historis lain yang mempercepat perkembangan.
2.      Latar Belakang Kedatangan Belanda, VOC, Hindia Belanda
Tujuan Belanda datang ke Indonesia, untuk mengembangankan usaha perdangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal harganya di Eropa. Dan perseruan Amsterdam mengirim beberapa armada kapal dagangannya ke Indonesia, dan diikuti banyak perseroan lain yang juga ingin berdagang dan berlayar ke Indonesia. Kemudian perseroan-perseroan itu bergabung dan di sahkan oleh Staten General Republik dengn satu piagam yang memberi hak kusus untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan di kawasan Kepulauan Nusantara. Perseroan itu bernama VOC.
Dalam usaha mengembangkan usaha perdagangannya. VOC nampak ingin melakukan Monopoli, karena itu, aktivitas ingin menguasai perdagangan Indonesia menimbulkan perlawanan pedagang-pedagang pribumi karena merasa terancam. Pada tahun 1798 VOC dibubarkan karena sebelumnya pada 1795 izin operasinya di cabut. Dibubarkannya VOC disebabkan beberapa factor. Dengan bubarnya VOC pada pergantian abad ke 18 secara resmi Indonesia berpindah ketangan pemerintahan Belanda, karena pemerintahan belanda memanfaatkan daerah jajahan untuk memberi keuntungan sebanyak-banyaknya kepada negri induk, guna menanggulangi masalah ekonomi Belanda yang sedang mengalami kebangkrutan akibat perang. Pada tahun 1830 pemerintah hindia-belanda menjalankan system tanam paksa. Dan pada tahun 1901 belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi.

3.      Penetrasi Politik Belanda
VOC sejak semula memang diberi izin oleh pemerintah belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka mendapatkan hak monopoli dagang di Indonesia. Oleh karena itu, VOC dibantu oleh kekuatan militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan mempunyai wilayah mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya. Dengan perlengkapan yang lebih maju VOC, melakukan politik ekspansi. Dengan kata lain abad ke 17 dan 18 adalah priode ekspansi dan monopoli dalam sejarah kolonial di Indonesia. Menjelang akhir abad ke 18 ekspansi di wilayah iniberhasil di jawa.
Penetrasi politik belanda juga terjadi di kerajaan banjarmasin. Belanda pertama kali datang ke kerajaan ini pada abad ke 17. untuk memperkokoh kedudukannya belanda mengangkat seorang gubernur di daerah itu. Ini berarti secara de facto, belanda sudah menjadi penguasa politik. Ini pula yang menjadi latar belakang terjadinya perang banjarmasin yang di pimpin pangeran Antarsari.
4.      Perlawanan Terhadap Penjajahan Belanda
Terdapat beberapa perlawanan-perlawanan dan perlawanan yang terbesar dan terlama ada empat :
1)      Perang Paderi di Minang Kabau
Pada perang paderi ini Balanda berkali-kali mendapatkan kesulitan dalam melawan kaum paderi, dan kaum paderi sendiri lolos berkali-kali dari tipuan penghianatan Belanda. Akan tetapi pada akhirnya kaum paderi itu kalah karena Belanda membuat tipuan muslihat dengan jebakan-jabakannya.
2)      Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah colonial Belanda di jawa. Pemicu terjadinya perang ini adalah rencana pemerintah Hindia Belanda untuk membuat jalan yang menerobos tanah milik pangeran diponegoro dan harus membongkar makam keramat. Patok-patok yang ditanam oleh pemerintah dicabut oleh pihak Diponegoro. Pihak Belanda ingin mengadakan perundingan dengan pangeran Diponegoro, setelah itu pangeran Diponegoro pindah ke selarong untuk memimpin perlawanan Belanda dengan menggariskan maksud dan tujuan. Dalam perang Diponegoro di nobatkan sebagai pemimpin tertinggi jawa dengan gelar Sultan Ngabdulhamid Herucakra Kabiril Mukminin Kholifatullah Ing Tanah Jawa.
Pada suatu keteka pangeran Diponegoero diundang oleh risiden untuk melanjutkan rundingan.akan tetapi pada rundingan ini pangeran Diponegoro malah di tangkap dan diasingkan karena ingin tetap mempertahankan agar di beri kebebasan untuk mendirikan Negara yang merdeka berdasarkan islam
3)      Perang Banjarmasin
Perang banjarmasin ini dilatar belakangi karma adanya campur tangan belanda dalam pemilihan sultan muda, karena sultan yang berkuasa pada masa itu sudah tua. Yang mana jabatan itu akan diserahkan pada putranya yang bernama Abdurrahman akan tetapi ia tidak berusia panjang. Dan sebagai penggantinya sultan menunjuk cucunya yang bernama Hidayat. Akan tetapi belanda kurang setuju drngan pilihan sultan yang mana belanda lebih berpihak pada pangeran Tamjid. dari terpilihnya pangeran Tamjid ini rakyat kurang setuju timbullah kericuan diberbagai wilayah banjarmasin. Ketika itulah perang banjarmasin di anggap dimulai.
4)      Perang Aceh
Pada awal abad ke 19, sebenarnya hegemoni kerajaan aceh di Sumatra utara sudah sangat menurun, tatapi kedaulatanya masih di akui oleh Negara-negara barat. Pada tanggal 30 maret 1857 di tanda tangani kontrak antara aceh dan pemerintah hindia belanda yang berisi kebebasan perdagangan kontrak itu memberi kedudukan kepada belanda disana dan di perkuat oleh traktat siak yang di tanda tangani pada tahun itu juga.
Setelah terusan suez dibuka, pelabuhan aceh menjadi sangat strategis, karena berada dalam urat nadi pelayaran internasional. Berdasarkan traktat Sumatra 2 nopember 1871, pihak belanda di beri kebebasan memperlus daerah kekuasaany di aceh, sedangkan inggris memperoleh kebebasan berdagang di daerah siak.
Itulah awal perang aceh yang menurut waktu dan ruang tdak ada taranya dalam sejarah perlawanan terhadap kekuasaan colonial perang ini disebut juga perang rakyat, karena seluruh rakyat aceh terlibat secara aktiv melawan colonial. Pejuang aceh dipersenjatai oleh idiologi perang sabil sepanjang berlangsungnya perang yang jelas mempersulit belanda.
5.      Politik Islam Hindia Belanda
Indonesia merupakan negeri berpenduduk mayoritas muslim. Agama islam secara terus menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkraman pemerintah kafir. Perlawanan dari raja-raja islam terhadap pemerintahan colonial bagai tak pernah henti. Padam di suatu tempat muncul di tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawana itu di inspirasi oleh ajaran islam.
Oleh karena itu, agam islam dipelajari secara ilmiah di negeri belanda. Seiring dengan itu, disana juga di selenggarakan indologie, ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk beluk penduduk Indonesia. Semua itu di maksudkan untuk mengukuhkan kekuasan belanda di Indonesia. Hasil dari pengkajian itu, lahirlah apa yang di kenal dengan "politik islam". Tokoh utama dan peletak dasarnya adalah Prof. Snouck hurgronje . dia berada di Indonesia antara tahun 1889 dan 1906.
Berdasarkan analisisnya, islam dapat dibagi menjadi dua bagan, yang satu islam religius dan yang lain islam politik terhadap masalah agama, pemerintah belanda di sarankan agar bersikap toleran yang di jabarkan di dalam sikap netral terhadap kehidupan keagamaan.
Dalam rangka membendung pengaruh islam, pemerintah belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa Indonesia, terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka harus di tarik kea rah westernisasi.
Analisa snouck hurgronje tentng potensi pribumi dan teotrinya tentang pemisahan unsure agama dari unsure politik, tidak sejalan dengan perkembangan situasi, terutam 20 tahun terahir kekuasaan belanda di Indonesia. oleh karena itu, peranan politik kantoor voor islandsche zakensemakin menghilang pada tahun-tahun terakhir, meskipun wewenangnya mengawasi gerakan politik lebih dipertegas sejak tahun 1931. Kantoor ini memang harus menjamin kelangsungan pemerintah hindia Belanda.[18]











[18] Yulianto, Joko Adi. (2011

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Ada beberapa pendapat mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Teori yang dapat dijadikan sebagai acuan jug atidak hanya satu. Jadi memang datangnya agama Islam ke Indonesia belum di ketahui secara pasti, ini dikarenakan kejadian telah berlansung sejak dahulu.Sehingga orang pada masa kini hanya menerka-nerka prosesnya. Namun bersamaan dengan itikad itu, kita jga dapat memperoleh pelajaran mengenai masuknya Islam ke Indonesia sehingga dapat menambah wawasan dan menambah keimanan kita.

B.     SARAN
Kami berharap, dengan adanya makalah ini pembaca akan mapu mengetahui tentang proses masuknya agama Islam ke Indonesia serta mampu untuk menjelaskan bagaimana proses masuknya Islam ke Indonesia.










DAFTAR PUSTAKA
Thohir, Ajid. 2009 . STUDI KAWASAN DUNIA ISLAM .Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Suryanegara, Ahmad Mansur.2010.API SEJARAH.Bandung:Salamadani Pustaka Semesta.
Muchtarom, H Zuhairini, dkk. 2004. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM. Jakarta : Bumi Aksara. Hal.
Sunanto, Prof.Dr. Musyrifah.2014.SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA. Jakarta : PT RAJA GRAFINDO PERSADA.
Samsul, MunirAmin.2010.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta.Amzah
Badri,Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: Rajawali Pers.
Nurahman, Adi . (2013). Sejarah Islam Indonesia. Diakses dari http://adinurahman.blogspot.co.id pada tanggal 15 November 2016
Anto. 2008.Perkembangan dan Akulturasi Islam di Indonesia.Diakases dari http://indonesianto07.wordpress.com/2008/11/09/perkembangan-dan-akulturasi-islam-di-indonesia/ diakses pada tangal 17 Novemeber 2016

Syahputra,Andre.(2014).Sejarah Masuknya Islam di Indonesia.Diakses dari http://andresyahputra2410.blogspot.co.id/2014/05/makalah-sejarah-masuknya-islam-di.html pada tanggal 17 November 2016
Dayat. (2014). Hubungan Politik dan Keagamaan Antara Kerajaan Islam Indonesia. Dari http://hidayat-al-ihsan.blogspot.co.id/2014/05/hubungan-politik-dan-keagamaan-antar_7.html diakases pada tanggal 5 Desember 2016
Yulianto, Joko Adi. (2011). Kerajaan-Kerajaan Islam Pada Masa Penjajahan. Diakses dari http://pandidikan.blogspot.co.id/2011/01/kerajaan-kerajaan-islam-pada-masa.html pada tanggal 5 Desember 201

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sulli f(X) Mencuri Hati fans Perempuan Di Karakternya di Drama To The Beautiful You’

Hwayoung bertanggung jawab atas ‘Sikap buruk’ Jiyeon?

7 Momen kontroversial T-ara